Judul : Review Hermeneutik
Ontologis- Dialektis Hans- Georg Gadamer (Produksi makna wayang sebagai metode
dakwah Sunan Kalijaga)
Jurnal : Penelitian
Volume & Halaman :
Volume 9 dan hal
Tahun : 2017
Penulis : Hasyim Hasanah
Reviewer :
Kholifatun Chasanah
REVIEW HERMENEUTIK ONTOLOGIS-DIALEKTIS HANS-GEORG GADAMER
(Produksi makna wayang sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga)
I.
Pendahuluan
Hermeneutik merupakan bangunan ilmu pengetahuan yang muncul bukan sebagai
tradisi berfikir mandiri tetapi muncul dari hasil reaksi, koreksi dan beberapa
pemikiran. Wolff (1991:189) menyebutkan bahwa pemikiran yang hadir memiliki
implikasi pada pemahaman masuk dalam pembahasan ontologi penafsiran. Proses
interpretasi teks dan fenomena sering menimbulkan kesenjangan pemahaman. Salah
satu tokoh yang membahas mengenai pentingnya pemahaman adalah Hans Georg
Gadamer. Hans Georg Gadamer merupakan salah satu pemikir yang masuk kedalam
kelompok hermeneutik ontologis. Gadamer mematangkan ide kesadaran, interpretasi
teks dan fenomena dan menemukan problem filosofis pengembangan ontologis
pemahaman secara obyektif. (Bleicher:2007:101). Namun ada kecenderungan yang
dilahirkan dari ide pemikiran gadamer, menjadikan seorang penafsir tidak
mungkin melakukan penafsiran netral, dan melakukan penyelidikan dari pikiran
kosong.
Padahal sebuah penafsiran yang benar harus memperhatikan keterbukaan
terhadap kandungan teks, membiarkan prasangka orang lain yang menafsirkannya
berubah dan dikoreksi pada saat berkonfrontasi dengan materi tersebut.
(crasnow:1987:109).
Persoalan yang hadir adalah di saat hermeneutik perlu memaparkan secara
lebih adekuat persoalan ilmu-ilmu kemanusiaan (geisteswissenschaften) secara
lebih obyektif, terukur, dan reliable, sementara produksi makna yang dihasilkan
dari dialek tradisi dan bahasa bersifat intersubyektif. Bagaimana pemaknaan
ilmu kemanusiaan bisa lahir dengan tepat, apabila masih terdapat intervensi
tradisi. Ada ketersambungan pola ketika harus melahirkan (memproduksi)
pemahaman baru dalam sebuah tradisi yang memiliki jaringan bahasa berbeda. Arti
dan makna menjadi sangat berbeda, ketika pesan budaya dilanjutkan dalam bentuk
bahasa yang berbeda. Problem lainnya dari hermeneutika mengenai cakrawala
pemahaman dari sudut pandang teks, pengarang, dan penafsir/pembaca, yang justru
mengakibatkan terjadinya konfrontasi, kompetisi, selanjutnya menyulut konflik
pemahaman. Mendasarkan hal tersebut, perlu upaya serius mengkaji pemikiran
hermeneutik Gadamer agar unit analisis ontologi pemahaman memberi hasil
komprehensip Persoalan yang hadir.[1]
II.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dalam
menemukan data yang benar tentang, Hermeneutik ontologis-dialektis Hans Garg
Gadamer (Produksi makna wayang sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga) dia
peneliti mengunakan teknik pengumpulan data melalui library reseach.
Selanjutnya untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan sejak awal penelitian
sampai akhir penelitian mengunakan teknik reduksi data, penyajian data dan
kesimpulan.
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gadamer merumuskan dua bentuk pemahaman, yaitu pemahaman terhadap konten
kebenaran (truth content) dan pemahaman terhadap intensi (intention) (Afaudi,
2007:81). Pemahaman terhadap konten berarti memahami makna yang dikandung
proposisi dan substansi materi teks. Pemahaman terhadap intensi berarti
memahami kondisi atau situasi dibalik fenomena atau teks. Pemahaman pada aspek
kedua inilah yang kemudian menjadi perhatian Gadamer sebagai kesadaran
pemahaman menyejarah.
Proses penyebaran agama Islam ke tanah jawa yang mayoritas mansyarakatnya
itu beragama Hindu-Budha dengan cara menggunakan bahasa dan budaya yang sudah
dikenal oleh mereka supaya mudah dipahami oleh masyarakat zaman dahulu. Dan
pada pertama kali menyebarkan dakwah ke tanah jawa tidak harus dengan
menggunakan dalil Al-Qur’an terlebih dahulu karena dalam pendekatan dakwah ini
membutuhkan proses dan mempermudah pemahaman melalui bahasa dan budaya yang
usdah mereka ketahui atau mereka anut dan sudah dikenal. Dari bahasa dan budaya
juga dimasukan nilai-nilai agama islam sedikit-demi sedikit tidak langsung
memaksakan kepada masyarakat untuk langsung masuk islam dan tidak dengan jalan
kekerasan. Dan dari situlah maksud dakwah dalam menyebarkan agama islam akan
dipahami secara utuh. Dan bahasa yang digunakan pun harus bermakna baik,
sebagaimana yang masyarakat ketahui seperti jamus kalimasada, namun penafsiran
orang-orang tentang jamus kalimasada itu berbeda-beda. Dalam berdakwah islam
penafsirannya diisi dengan nilai-nilai islam. Dakwah yang dilakukan oleh Sunan
Kalijaga mengenalkan jamus kalimasada sebagai jimat atau pegangan dasar dalam
agama Islam, karena Sunan Kalijaga berdakwah pada masyarakat yang mayoritas
Hindu-Budha. Berbeda dengan dakwah yang dilakukan oleh Gus Dur, beliau
memperkenalkan jamus Kalimasada di kalangan mayoritas umat Islam selain sebagai
kalimat Syahadat juga sebagai bentuk toleransi terhadap agama lain dalam segi
bahasa sebagaimana nilai-nilai yang terkandung pada ideologi pancasila. Dan
berbeda lagi dengan pendapat bapak soeharto bahwa beliau memaknai jumus
kalimasada sebagai strategi pembangunan. Jumus kalimasada ini akan menciptakan
kesejahteraan dan kedamaian. Dari situlah dapat diketahui bahwa sebenarnya
wayang memiliki produktifitas dan kreatifitas yang berbeda-beda sesuai dengan
perkembangan zaman.
IV.
Kelebihan dan Kelemahan Jurnal
a.
Kelebihan
Format
penulisan jurnal sudah sistematis, mendapatkan pengalaman baru dari jurnal dan
sudah dijelaskan dengan jelas baik dari segi teori maupun dari pemahaman
sendiri.
b.
Kelemahan
Bahasa yang
digunakan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk difahami dan butuh
berulang-ulang membacanya.[2]
[1] Hasyim Hasanah,REVIEW
HERMENEUTIK ONTOLOGIS-DIALEKTIS HANS-GEORG GADAMER (Produksi makna wayang
sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga),Jurnal
At-Taqaddum,volume9,nomor1,juli2017
[2] Hasil
Review dari Kholifatun Chasanah merupakan mahasiswa dari jurusan Bimbingan
Penyuluhan Islam UIN Walisongo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar