Senin, 17 Desember 2018

REVIEW HERMENEUTIK ONTOLOGIS-DIALEKTIS HANS-GEORG GADAMER (Produksi makna wayang sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga)


Judul                           : Review Hermeneutik Ontologis- Dialektis Hans- Georg Gadamer (Produksi makna wayang sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga)
Jurnal                           : Penelitian
Volume & Halaman    : Volume 9 dan hal     
Tahun                          : 2017
Penulis                         : Hasyim Hasanah
Reviewer                     : Kholifatun Chasanah           

REVIEW HERMENEUTIK ONTOLOGIS-DIALEKTIS HANS-GEORG GADAMER
(Produksi makna wayang sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga)
                               I.            Pendahuluan
Hermeneutik merupakan bangunan ilmu pengetahuan yang muncul bukan sebagai tradisi berfikir mandiri tetapi muncul dari hasil reaksi, koreksi dan beberapa pemikiran. Wolff (1991:189) menyebutkan bahwa pemikiran yang hadir memiliki implikasi pada pemahaman masuk dalam pembahasan ontologi penafsiran. Proses interpretasi teks dan fenomena sering menimbulkan kesenjangan pemahaman. Salah satu tokoh yang membahas mengenai pentingnya pemahaman adalah Hans Georg Gadamer. Hans Georg Gadamer merupakan salah satu pemikir yang masuk kedalam kelompok hermeneutik ontologis. Gadamer mematangkan ide kesadaran, interpretasi teks dan fenomena dan menemukan problem filosofis pengembangan ontologis pemahaman secara obyektif. (Bleicher:2007:101). Namun ada kecenderungan yang dilahirkan dari ide pemikiran gadamer, menjadikan seorang penafsir tidak mungkin melakukan penafsiran netral, dan melakukan penyelidikan dari pikiran kosong.
Padahal sebuah penafsiran yang benar harus memperhatikan keterbukaan terhadap kandungan teks, membiarkan prasangka orang lain yang menafsirkannya berubah dan dikoreksi pada saat berkonfrontasi dengan materi tersebut. (crasnow:1987:109).
Persoalan yang hadir adalah di saat hermeneutik perlu memaparkan secara lebih adekuat persoalan ilmu-ilmu kemanusiaan (geisteswissenschaften) secara lebih obyektif, terukur, dan reliable, sementara produksi makna yang dihasilkan dari dialek tradisi dan bahasa bersifat intersubyektif. Bagaimana pemaknaan ilmu kemanusiaan bisa lahir dengan tepat, apabila masih terdapat intervensi tradisi. Ada ketersambungan pola ketika harus melahirkan (memproduksi) pemahaman baru dalam sebuah tradisi yang memiliki jaringan bahasa berbeda. Arti dan makna menjadi sangat berbeda, ketika pesan budaya dilanjutkan dalam bentuk bahasa yang berbeda. Problem lainnya dari hermeneutika mengenai cakrawala pemahaman dari sudut pandang teks, pengarang, dan penafsir/pembaca, yang justru mengakibatkan terjadinya konfrontasi, kompetisi, selanjutnya menyulut konflik pemahaman. Mendasarkan hal tersebut, perlu upaya serius mengkaji pemikiran hermeneutik Gadamer agar unit analisis ontologi pemahaman memberi hasil komprehensip Persoalan yang hadir.[1]
                            II.            Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dalam menemukan data yang benar tentang, Hermeneutik ontologis-dialektis Hans Garg Gadamer (Produksi makna wayang sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga) dia peneliti mengunakan teknik pengumpulan data melalui library reseach. Selanjutnya untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan sejak awal penelitian sampai akhir penelitian mengunakan teknik reduksi data, penyajian data dan kesimpulan.
                         III.            HASIL DAN PEMBAHASAN
Gadamer merumuskan dua bentuk pemahaman, yaitu pemahaman terhadap konten kebenaran (truth content) dan pemahaman terhadap intensi (intention) (Afaudi, 2007:81). Pemahaman terhadap konten berarti memahami makna yang dikandung proposisi dan substansi materi teks. Pemahaman terhadap intensi berarti memahami kondisi atau situasi dibalik fenomena atau teks. Pemahaman pada aspek kedua inilah yang kemudian menjadi perhatian Gadamer sebagai kesadaran pemahaman menyejarah.
Proses penyebaran agama Islam ke tanah jawa yang mayoritas mansyarakatnya itu beragama Hindu-Budha dengan cara menggunakan bahasa dan budaya yang sudah dikenal oleh mereka supaya mudah dipahami oleh masyarakat zaman dahulu. Dan pada pertama kali menyebarkan dakwah ke tanah jawa tidak harus dengan menggunakan dalil Al-Qur’an terlebih dahulu karena dalam pendekatan dakwah ini membutuhkan proses dan mempermudah pemahaman melalui bahasa dan budaya yang usdah mereka ketahui atau mereka anut dan sudah dikenal. Dari bahasa dan budaya juga dimasukan nilai-nilai agama islam sedikit-demi sedikit tidak langsung memaksakan kepada masyarakat untuk langsung masuk islam dan tidak dengan jalan kekerasan. Dan dari situlah maksud dakwah dalam menyebarkan agama islam akan dipahami secara utuh. Dan bahasa yang digunakan pun harus bermakna baik, sebagaimana yang masyarakat ketahui seperti jamus kalimasada, namun penafsiran orang-orang tentang jamus kalimasada itu berbeda-beda. Dalam berdakwah islam penafsirannya diisi dengan nilai-nilai islam. Dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga mengenalkan jamus kalimasada sebagai jimat atau pegangan dasar dalam agama Islam, karena Sunan Kalijaga berdakwah pada masyarakat yang mayoritas Hindu-Budha. Berbeda dengan dakwah yang dilakukan oleh Gus Dur, beliau memperkenalkan jamus Kalimasada di kalangan mayoritas umat Islam selain sebagai kalimat Syahadat juga sebagai bentuk toleransi terhadap agama lain dalam segi bahasa sebagaimana nilai-nilai yang terkandung pada ideologi pancasila. Dan berbeda lagi dengan pendapat bapak soeharto bahwa beliau memaknai jumus kalimasada sebagai strategi pembangunan. Jumus kalimasada ini akan menciptakan kesejahteraan dan kedamaian. Dari situlah dapat diketahui bahwa sebenarnya wayang memiliki produktifitas dan kreatifitas yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangan zaman.
                         IV.            Kelebihan dan Kelemahan Jurnal
a.       Kelebihan
Format penulisan jurnal sudah sistematis, mendapatkan pengalaman baru dari jurnal dan sudah dijelaskan dengan jelas baik dari segi teori maupun dari pemahaman sendiri.
b.      Kelemahan
Bahasa yang digunakan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk difahami dan butuh berulang-ulang membacanya.[2]



[1] Hasyim Hasanah,REVIEW HERMENEUTIK ONTOLOGIS-DIALEKTIS HANS-GEORG GADAMER (Produksi makna wayang sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga),Jurnal At-Taqaddum,volume9,nomor1,juli2017
[2] Hasil Review dari Kholifatun Chasanah merupakan mahasiswa dari jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Walisongo

Minggu, 16 Desember 2018

REVIEW HERMENEUTIK ONTOLOGIS-DIALEKTIS HANS-GEORG GADAMER (Produksi makna wayang sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga)



Judul                           : Review Hermeneutik Ontologis- Dialektis Hans- Georg Gadamer (Produksi makna wayang sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga)
Jurnal                           : Penelitian
Volume & Halaman    : Volume 9 dan hal     
Tahun                          : 2017
Penulis                         : Hasyim Hasanah
Reviewer                     : Kholifatun Chasanah           

REVIEW HERMENEUTIK ONTOLOGIS-DIALEKTIS HANS-GEORG GADAMER
(Produksi makna wayang sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga)
                               I.            Pendahuluan
Hermeneutik merupakan bangunan ilmu pengetahuan yang muncul bukan sebagai tradisi berfikir mandiri tetapi muncul dari hasil reaksi, koreksi dan beberapa pemikiran. Wolff (1991:189) menyebutkan bahwa pemikiran yang hadir memiliki implikasi pada pemahaman masuk dalam pembahasan ontologi penafsiran. Proses interpretasi teks dan fenomenasering menimbulkan kesenjangan pemahaman. Salah satu tokoh yang membahas mengenai pentingnya pemahaman adalah Hans Georg Gadamer. Hans Georg Gadamer merupakan salah satu pemikir yang masuk kedalam kelompok hermeneutik ontologis. Gadamer mematangkan ide kesadaran, interpretasi teks dan fenomena dan menemukan problem filosofis pengembangan ontologis pemahaman secara obyektif. (Bleicher:2007:101). Namun ada kecenderungan yang dilahirkan dari ide pemikiran gadamer, menjadikan seorang penafsir tidak mungkin melakukan penafsiran netral, dan melakukan penyelidikan dari pikiran kosong.
Padahal sebuah penafsiran yang benar harus memperhatikan keterbukaan terhadap kandungan teks, membiarkan prasangka orang lain yang menafsirkannya berubah dan dikoreksi pada saat berkonfrontasi dengan materi tersebut. (crasnow:1987:109).
Persoalan yang hadir adalah di saat hermeneutik perlu memaparkan secara lebih adekuat persoalan ilmu-ilmu kemanusiaan (geisteswissenschaften) secara lebih obyektif, terukur, dan reliable, sementara produksi makna yang dihasilkan dari dialek tradisi dan bahasa bersifat intersubyektif. Bagaimana pemaknaan ilmu kemanusiaan bisa lahir dengan tepat, apabila masih terdapat intervensi tradisi. Ada ketersambungan pola ketika harus melahirkan (memproduksi) pemahaman baru dalam sebuah tradisi yang memiliki jaringan bahasa berbeda. Arti dan makna menjadi sangat berbeda, ketika pesan budaya dilanjutkan dalam bentuk bahasa yang berbeda. Problem lainnya dari hermeneutika mengenai cakrawala pemahaman dari sudut pandang teks, pengarang, dan penafsir/pembaca, yang justru mengakibatkan terjadinya konfrontasi, kompetisi, selanjutnya menyulut konflik pemahaman. Mendasarkan hal tersebut, perlu upaya serius mengkaji pemikiran hermeneutik Gadamer agar unit analisis ontologi pemahaman memberi hasil komprehensip Persoalan yang hadir.[1]
                            II.            Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dalam menemukan data yang benar tentang, Hermeneutik ontologis-dialektis Hans Garg Gadamer (Produksi makna wayang sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga) dia peneliti mengunakan teknik pengumpulan data melalui library reseach. Selanjutnya untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan sejak awal penelitian sampai akhir penelitian mengunakan teknik reduksi data, penyajian data dan kesimpulan.
                         III.            HASIL DAN PEMBAHASAN
Gadamer merumuskan dua bentuk pemahaman, yaitu pemahaman terhadap konten kebenaran (truth content) dan pemahaman terhadap intensi (intention) (Afaudi, 2007:81). Pemahaman terhadap konten berarti memahami makna yang dikandung proposisi dan substansi materi teks. Pemahaman terhadap intensi berarti memahami kondisi atau situasi dibalik fenomena atau teks. Pemahaman pada aspek kedua inilah yang kemudian menjadi perhatian Gadamer sebagai kesadaran pemahaman menyejarah.
Proses penyebaran agama Islam ke tanah jawa yang mayoritas mansyarakatnya itu beragama Hindu-Budha dengan cara menggunakan bahasa dan budaya yang sudah dikenal oleh mereka supaya mudah dipahami oleh masyarakat zaman dahulu. Dan pada pertama kali menyebarkan dakwah ke tanah jawa tidak harus dengan menggunakan dalil Al-Qur’an terlebih dahulu karena dalam pendekatan dakwah ini membutuhkan proses dan mempermudah pemahaman melalui bahasa dan budaya yang usdah mereka ketahui atau mereka anut dan sudah dikenal. Dari bahasa dan budaya juga dimasukan nilai-nilai agama islam sedikit-demi sedikit tidak langsung memaksakan kepada masyarakat untuk langsung masuk islam dan tidak dengan jalan kekerasan. Dan dari situlah maksud dakwah dalam menyebarkan agama islam akan dipahami secara utuh. Dan bahasa yang digunakan pun harus bermakna baik, sebagaimana yang masyarakat ketahui seperti jamus kalimasada, namun penafsiran orang-orang tentang jamus kalimasada itu berbeda-beda. Dalam berdakwah islam penafsirannya diisi dengan nilai-nilai islam. Dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga mengenalkan jamus kalimasada sebagai jimat atau pegangan dasar dalam agama Islam, karena Sunan Kalijaga berdakwah pada masyarakat yang mayoritas Hindu-Budha. Berbeda dengan dakwah yang dilakukan oleh Gus Dur, beliau memperkenalkan jamus Kalimasada di kalangan mayoritas umat Islam selain sebagai kalimat Syahadat juga sebagai bentuk toleransi terhadap agama lain dalam segi bahasa sebagaimana nilai-nilai yang terkandung pada ideologi pancasila. Dan berbeda lagi dengan pendapat bapak soeharto bahwa beliau memaknai jumus kalimasada sebagai strategi pembangunan. Jumus kalimasada ini akan menciptakan kesejahteraan dan kedamaian. Dari situlah dapat diketahui bahwa sebenarnya wayang memiliki produktifitas dan kreatifitas yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangan zaman.
                         IV.            Kelebihan dan Kelemahan Jurnal
a.       Kelebihan
Format penulisan jurnal sudah sistematis, mendapatkan pengalaman baru dari jurnal dan sudah dijelaskan dengan jelas baik dari segi teori maupun dari pemahaman sendiri.
b.      Kelemahan
Bahasa yang digunakan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk difahami dan butuh berulang-ulang membacanya.[2]



[1] Hasyim Hasanah,REVIEW HERMENEUTIK ONTOLOGIS-DIALEKTIS HANS-GEORG GADAMER (Produksi makna wayang sebagai metode dakwah Sunan Kalijaga),Jurnal At-Taqaddum,volume9,nomor1,juli2017
[2] Hasil Review dari Kholifatun Chasanah merupakan mahasiswa dari jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Walisongo